 | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Ada beberapa hal yang membuat film Get Married menarik perhatian saya. Pertama, para pemain yang tampaknya menjanjikan film ini untuk menjadi film komedi yang benar-benar lucu. Kedua, sutradara dan penulis naskah yang terhitung kaliber di bidangnya masing-masing, yaitu Hanung Bramantyo dengan Jomblo-nya yang lumayan lucu dan cukup menghibur serta Musfar Yasin sang pembuat naskah film Naga Bonar Jadi 2.
Ketiga, music director yang menjanjikan kuping saya mendapat perilaku yang sopan selama menonton di dalam studio bioskop. Saya yakin Slank akan memberikan kualitas scoring yang tidak se-annoying film-film Indonesia lainnya (maaf, mungkin ini efek over-generalization karena sebelum ini saya menonton Pocong 3).
Selain itu, saya juga berpikir, akhirnya, ada film Indonesia yang tidak berisi hantu-hantu tidak mengerikan atau cerita-cerita horor yang tidak disertai dengan naskah yang kuat. Get Married bagaikan oase di tengah gurun horor film Indonesia. Ini memang berlebihan, tapi saya rasa penting. Siapa tahu tulisan saya ini dibaca oleh produser atau sutradara film Indonesia yang jadi termotivasi untuk menghentikan tradisi menakut-nakuti-tapi-tidak-menyeramkan-sama-sekali-nya.
Dengan godaan-godaan itu, saya, yang selalu tertarik dengan perkembangan film Indonesia bahkan Love Is Cinta pun, memutuskan untuk menonton film ini. Saya masuk ke studio bioskop tanpa harapan apa-apa, karena tiap kali saya berharap kepada film Indonesia, yang datang justru malapetaka.
Tak sangka, adegan awal Get Married sudah menunjukkan bahwa film ini akan menjadi film komedi yang benar-benar lucu atau paling tidak menghibur. Dengan sentilan-sentilan kritik untuk para pejabat, narasi awal film ini mengisahkan sejarah persahabat empat sekawan Maemun (Nirina Zubir), Beni (Ringgo Agus Rahman), Guntoro (Desta Club Eighties), dan Eman (Aming) dengan cara tutur dan ilustrasi visual yang cukup menarik.
Mae selalu bermimpi untuk menjadi polisi wanita, meskipun ia baru saja lulus dari akademi sekretaris. Beni pun punya cita-cita menjadi petinju profesional, sayangnya ia harus meladang karena hanya sanggup mengikuti kursus singkat budi daya pisang. Guntoro selalu membayangkan dirinya menjadi pelaut sementara Eman bermimpi menjadi politikus.
Karena mereka berempat tidak dapat menggapai mimpinya masing-masing, jadilah mereka sekawan pengangguran yang tak jelas arah tujuan. Orangtua Mae, yang diperankan oleh Jaja Mihardja dan Meriam Bellina, sangat menginginkan anaknya segera menikah agar lepas dari beban mereka. Film ini pada intinya menggambarkan perjuangan Mae bersama teman-teman dan orangtuanya untuk mendapatkan calon suami terbaik untuk Mae.
Latar belakang dan ide cerita film ini sebenarnya sederhana ala kultur Jakarta pada khususnya dan Indonesia pada umumnya; pengangguran di mana-mana, kekerabatan yang kuat antar sesama warga, persahabatan dan budaya kolektivistik, dan keinginan orang tua untuk menikahkan anaknya sesegera mungkin.
Untungnya, bumbu-bumbu yang dibubuhkan melalui pengadeganan dan pelukisan alur cerita pada film ini tak hambar dan cukup sukses menghibur seisi bioskop, paling tidak sewaktu saya menontonnya. Hampir tiap lima menit sekali, terdengar suara tawa di teater ketika saya menonton.
Para pemeran pendukung film ini punya andil besar dalam menjadikan bumbu-bumbu itu penuh rasa dan tidak hambar. Mpok Nori, misalnya. Tokoh betawi yang terkenal jenaka ini disisipkan di tengah kepanikan ‘tawuran’ antara warga desa dengan warga kompleks, sehingga membuat suasana yang harusnya tegang itu tetap dibubuhi bumbu-bumbu komedi yang mengundang tawa.
Pada intinya, faktor utama yang membuat unsur-unsur dalam film ini menarik adalah kekuatan naskahnya. Musfar Yasin mungkin memang diberkahi talenta untuk membuat naskah dan alur cerita yang kuat, melihat kesuksesannya dalam Naga Bonar Jadi 2.
“Lo tuh kelamaan di state, bos. Jadi lo lupa cara berlakunya orang Indonesia. Inilah cara Indonesia, bos, sahabat-sahabat lo nunjukkin solidaritas mereka!” kata seorang ajudan bertubuh kekar dalam suasana yang seharusnya genting. Retorika ini pun dibalas, “Yeaaahhhh!” dengan berapi-api oleh para warga kompleks secara serentak. Dari contoh ini, dapat dilihat, kenorak-an naskah yang justru membuat saya tertawa karena norak-nya yang natural.
Kendati demikian, ada satu unsur penting yang membuat saya sedikit, maaf, jijik menonton film ini, yaitu judulnya. Oh, tidak, Star Vision, pasti ini ulahmu! Saya sempat membaca di beberapa media bahwa film ini tadinya diberi judul Kepayang oleh Musfar Yasin. Parwez biadab (Chand Parwez Shervia, bos Star Vision, adalah produser film ini). Mungkin dia pikir judul ini lebih menjual dan lebih ‘anak muda’ daripada judul asli yang diajukan Musfar Yasin. Atau jangan-jangan ini ulah Musfar Yasin sendiri? Ah, terserahlah, pokoknya judul itu menjijikan.
Secara keseluruhan, Get Married dapat dikatakan menghibur dan cukup lucu. Tata suara, scoring musik, pengadeganan, komposisi pengambilan gambar dan tata cahaya hingga tata letak artistiknya semuanya baik-baik saja. Atau mungkin sebenarnya payah tapi saya terlalu terbuai dengan kelucuan film ini? Mungkin saja. Sayangnya, entah kenapa, film ini tidak terasa begitu istimewa. Kenapa ya? Ada yang punya jawabannya?
Daripada Lawang Sewu, Pocong 3, Kuntilanak 2, atau Jelangkung 3, saya menyarankan Anda untuk menonton Get Married jika benar-benar sedang ingin menyaksikan film Indonesia. 
 | Ada beberapa hal yang membuat film Get Married menarik perhatian saya. Pertama, para pemain yang tampaknya menjanjikan film ini untuk menjadi film komedi yang benar-benar lucu. Kedua, sutradara dan penulis naskah yang terhitung kaliber di bidangnya masing-masing, yaitu Hanung Bramantyo dengan Jomblo-nya yang lumayan lucu dan cukup menghibur serta Musfar Yasin sang pembuat naskah film Naga Bonar Jadi 2.
Ketiga, music director yang menjanjikan kuping saya mendapat perilaku yang sopan selama menonton di dalam studio bioskop. Saya yakin Slank akan memberikan kualitas scoring yang tidak se-annoying film-film Indonesia lainnya (maaf, mungkin ini efek over-generalization karena sebelum ini saya menonton Pocong 3).
Selain itu, saya juga berpikir, akhirnya, ada film Indonesia yang tidak berisi hantu-hantu tidak mengerikan atau cerita-cerita horor yang tidak disertai dengan naskah yang kuat. Get Married bagaikan oase di tengah gurun horor film Indonesia. Ini memang berlebihan, tapi saya rasa penting. Siapa tahu tulisan saya ini dibaca oleh produser atau sutradara film Indonesia yang jadi termotivasi untuk menghentikan tradisi menakut-nakuti-tapi-tidak-menyeramkan-sama-sekali-nya.
Dengan godaan-godaan itu, saya, yang selalu tertarik dengan perkembangan film Indonesia bahkan Love Is Cinta pun, memutuskan untuk menonton film ini. Saya masuk ke studio bioskop tanpa harapan apa-apa, karena tiap kali saya berharap kepada film Indonesia, yang datang justru malapetaka.
Tak sangka, adegan awal Get Married sudah menunjukkan bahwa film ini akan menjadi film komedi yang benar-benar lucu atau paling tidak menghibur. Dengan sentilan-sentilan kritik untuk para pejabat, narasi awal film ini mengisahkan sejarah persahabat empat sekawan Maemun (Nirina Zubir), Beni (Ringgo Agus Rahman), Guntoro (Desta Club Eighties), dan Eman (Aming) dengan cara tutur dan ilustrasi visual yang cukup menarik.
Mae selalu bermimpi untuk menjadi polisi wanita, meskipun ia baru saja lulus dari akademi sekretaris. Beni pun punya cita-cita menjadi petinju profesional, sayangnya ia harus meladang karena hanya sanggup mengikuti pendidikan dan pelatihan cocok tanam. Guntoro selalu membayangkan dirinya menjadi pelaut sementara Eman bermimpi menjadi politikus.
Karena mereka berempat tidak dapat menggapai mimpinya masing-masing, jadilah mereka sekawan pengangguran yang tak jelas arah tujuan. Orangtua Mae, yang diperankan oleh Jaja Mihardja dan Meriam Bellina, sangat menginginkan anaknya segera menikah agar lepas dari beban mereka. Film ini pada intinya menggambarkan perjuangan Mae bersama teman-teman dan orangtuanya untuk mendapatkan calon suami terbaik untuk Mae.
Latar belakang dan ide cerita film ini sebenarnya sederhana ala kultur Jakarta pada khususnya dan Indonesia pada umumnya; pengangguran di mana-mana, kekerabatan yang kuat antar sesama warga, persahabatan dan budaya kolektivistik, dan keinginan orang tua untuk menikahkan anaknya sesegera mungkin.
Untungnya, bumbu-bumbu yang dibubuhkan melalui pengadeganan dan pelukisan alur cerita pada film ini tak hambar dan cukup sukses menghibur seisi bioskop, paling tidak sewaktu saya menontonnya. Hampir tiap lima menit sekali, terdengar suara tawa di teater ketika saya menonton.
Para pemeran pendukung film ini punya andil besar dalam menjadikan bumbu-bumbu itu penuh rasa dan tidak hambar. Mpok Nori, misalnya. Tokoh betawi yang terkenal jenaka ini disisipkan di tengah kepanikan ‘tawuran’ antara warga desa dengan warga kompleks, sehingga membuat suasana yang harusnya tegang itu tetap dibubuhi bumbu-bumbu komedi yang mengundang tawa.
Pada intinya, faktor utama yang membuat unsur-unsur dalam film ini menarik adalah kekuatan naskahnya. Musfar Yasin mungkin memang diberkahi talenta untuk membuat naskah dan alur cerita yang kuat, melihat kesuksesannya dalam Naga Bonar Jadi 2.
“Lo tuh kelamaan di state, bos. Jadi lo lupa gimana cara Indonesia. Inilah cara Indonesia, solidaritas kebersamaan!” kata seorang ajudan bertubuh kekar dalam suasana yang seharusnya genting. Retorika ini pun dibalas, “Yeaaahhhh!” dengan berapi-api oleh para warga kompleks secara serentak. Dari contoh ini, dapat dilihat, kenorak-an naskah yang justru membuat saya tertawa karena norak-nya yang natural.
Kendati demikian, ada satu unsur penting yang membuat saya sedikit, maaf, jijik menonton film ini, yaitu judulnya. Oh, tidak, Star Vision, pasti ini ulahmu! Saya sempat membaca di beberapa media bahwa film ini tadinya diberi judul Kepayang oleh Musfar Yasin. Parwez biadab (Chand Parwez Shervia, bos Star Vision, adalah produser film ini). Mungkin dia pikir judul ini lebih menjual dan lebih ‘anak muda’ daripada judul asli yang diajukan Musfar Yasin. Atau jangan-jangan ini ulah Musfar Yasin sendiri? Ah, terserahlah, pokoknya judul itu menjijikan.
Secara keseluruhan, Get Married dapat dikatakan menghibur dan cukup lucu. Tata suara, scoring musik, pengadeganan, komposisi pengambilan gambar dan tata cahaya hingga tata letak artistiknya semuanya baik-baik saja. Atau mungkin sebenarnya payah tapi saya terlalu terbuai dengan kelucuan film ini? Mungkin saja. Sayangnya, entah kenapa, film ini tidak terasa begitu istimewa. Kenapa ya? Ada yang punya jawabannya?
Daripada Lawang Sewu, Pocong 3, Kuntilanak 2, atau Jelangkung 3, saya menyarankan Anda untuk menonton Get Married jika benar-benar sedang ingin menyaksikan film Indonesia.  tapi sepanjang film ga berani liat pocong. |
 | bener ter. di gramedia buku2nya mendadak tentang siluman semua. jijik. lagi2 degradasi nilai. |
| |