Tadi sore, seperti biasa, saya melakukan ritual jalan sore. Jalan sore kali ini bukan di sekitar kos atau kampus, tapi di Supermal Lippo Karawaci. Hihi. Iya, betul. Jadi ceritanya tadi siang saya ketinggalan bus pukul 14:00 jurusan Karawaci – Mal Ciputra – Plaza Semanggi – Citra Graha karena ketiduran. It was so close. Saya tiba pukul 14:03 –menurut jam saya—, dan saya masih bisa melihat dengan jelas dari dalam bus yang sedang saya tumpangi, bus menuju Jakarta itu pergi meninggalkan terminal.
Apa mau dikata. Saya sudah terlanjur sampai di terminal. Keberangkatan bus berikutnya, yang menuju ke arah Jakarta Selatan atau Jakarta Pusat, jam 16:45, yaitu bus jurusan Karawaci – Pasaraya Grande. Apa yang harus saya lakukan dalam 2 jam 45 menit di terminal bus Karawaci yang supergersang itu? Akhirnya, saya berjalan ke mal. Letak terminal bus Karawaci memang sangat dekat dengan Supermal Lippo Karawaci –persis di belakang mal.
Berjalanlah saya menuju bioskop 21 dan mengecek film yang bisa disaksikan. Saat saya tiba di bioskop sudah hampir 14:30. Film yang paling mendekati jam itu adalah Wanted, film yang dipuja-puja oleh hampir semua anak kampus saya yang saya kenal. Meskipun ketinggalan hampir lima menit, karena rasa tertarik yang begitu besar, masuklah saya ke bioskop. Kecewa. Untung biaya nontonnya hampir sebanding dengan DVD: Rp. 10.000 saja.
Malas ah menceritakan Wanted-nya. Lebih baik langsung ke bagian paling penting dari cerita ini. Setelah nonton, saya membeli air putih dan pop corn generik Rp. 5.000 di depan bioskop dan kemudian berjalan mengitari bagian luar Supermal Lippo Karawaci. Sore ini tidak semenyenangkan sore-sore sebelumnya. Sore ini panas dan medan yang saya tempuh juga tidak begitu nyaman: Pelataran parkir mal.
Sore ini hampir menjadi sore terburuk saya selama di Karawaci –ketinggalan bus, nonton film yang tidak sebagus yang saya harapkan, jalan-jalan di tempat yang sama sekali tidak menyenangkan dengan udara yang sangat amat tidak bersahabat— sampai akhirnya sesuatu yang lucu just simply made my day. Maaf ya bahasanya campur aduk seperti beberapa majalah terkemuka di Jakarta dan juga Indonesia, saya tidak menemukan padanan dari ’made my day’ itu. Hoho. Bebaslahya, namanya juga blog pribadi. Ah, kebanyakan ngemeng lagi. Kembali ke topik.
Seorang tukang parkir dari jauh memerhatikan saya sambil tersenyum. Ketika melewati tukang parkir tersebut, saya tersenyum sok ramah dan berkata, ”Sore, mas.” Mas itu pun membalas:
”Neng, ***&%&@&^#%^@!. Kayak band *@(*#@*&!^!&#(*&.”
Saya sedikit bingung karena saat itu saya sedang mendengarkan musik dengan volume yang cukup kencang di iPod saya yang jelas-jelas earphone-nya terlekat dengan rapi pada kedua telinga saya. Setelah mencabut earphone sebelah kanan dari telinga, saya pun menjawab dengan ramah, “Kenapa, mas?”
“Kaga, rambutnya lucu, kayak band The Cang.” Sontak saya tertawa kecil –tawa kecil yang saya tahan karena saya rasanya ingin tertawa terbahak-bahak. “The Changcuters kali, mas?” balas saya.
“Nah, iya tuh, bener. Lagian nama band ribet-ribet amat yak. Tapi ga papa sih, lagunya enak-enak,” katanya. Ketika mas itu menyelesaikan kalimatnya, posisi saya sudah cukup jauh darinya, karena sedari pertama ia berbicara pada saya, saya terus berjalan. Saya pun berkata, sambil agak berteriak, ”Ada-ada aja mas. Yuk, mari!” Dia pun meneriakkan kembali, ”Yo! Ati-ati, neng!”
Setelah beberapa jejak saya berlangkah, saya tertawa kecil, mengembalikan earphone ke telinga kanan saya, dan melaju lebih cepat karena waktu di iPod saya sudah menunjukkan pukul 16:30.
Parking guy, thanks for making my day.
Oh ya, sekarang saya menulis entry ini di dalam bus loh. Lucu juga. Seperti sedang mengerjakan sesuatu yang penting, padahal hanya menulis blog tak penting semata. Hihi.